Header Ads

Laporan Ustadz Asal Indonesia Tentang Uighur Ini Bikin Negara Muslim Terhenyak!



Aktivis Kemanusiaan, Ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq berhasil menembus Xinjiang, China. Ustadz Azzam dengan blak-blakan menceritakan kondisi memprihatinkan Muslim Uyghur yang langsung beliau saksikan. Berikut beberapa kutipan pernyataan beliau:

1. Suasana Masjid di Xinjiang

Ustadz Azzam, dalam ceritanya, mendirikan shalat di masjid 3 lantai dengan bangunan yang mengagumkan.

"Masjidnya 3 lantai. Dibangun lebih dari puluhan atau hingga ratusan lalu. Ornamennya cantik. Perpaduan gaya Turki, Mongolia, Kyrgistan dan China. Dulu penuh. Dibuka sepanjang hari. Anak-anak ramai mengaji. Orang tua dan orang muda memenuhi shaf depan hingga belakang. Dari mulai mengaji hingga mungkin hanya foto-foto selfie. Tapi itu dulu. Sekarang sepi. Dibatasi." ungkapnya.

2. Pemeriksaan Masuk Masjid

Ustadz Azzam menuturkan, untuk masuk ke dalam Masjid dilakukan pengecekan ketat tak ubahnya pemeriksaan imigrasi.

"Masuk masjid diperiksa identitas diri. Barang bawaan dimasukkan mesin. Diperiksa manual lagi dengan teliti. Orang asing seperti saya semacam masuk lagi gerbang imigrasi. Paspor discan, dilacak. Beragam visa di lembaran paspor dibaca dengan teliti. Kacamata dibuka dan wajah difoto biometrik lagi. Handphone diperiksa, dibuka semua aplikasi dan galeri." terangnya menuturkan.

3. Tidak Ada Dzikir Setelah Sholat

Usai shalat, katanya, tak ada ibadah berupa dzikir bersama. Jamaah langsung diperintahkan keluar dari masjid.

"Lepas shalat, tak bisa duduk sekedar dzikir, doa atau mengaji. Semua jamaah diminta segera pergi." ungkapnya.

4. Tidak Ada Pemuda Uyghur Di Masjid

Di masjid tidak ada jamaah dari kalangan pemuda. Jamaah didominasi kalangan tua, itu pun bisa dihitung jari.

"Menoleh ke belakang, depan, kanan dan kiri tak ada pemuda apalagi pemudi. Semuanya orang tua yg tak muda lagi. Bukan tak mau atau malas shalat di masjid seperti yg disabdakan Baginda Nabi. Mereka takut dengan ancaman sekurang-kurangnya 2 bulan di dalam bui. Masjid indah ini, bahkan di hari Jumat saja tak sampai setengahnya dipenuhi." terangnya, miris.

5. Khutbah Jum'at Dipersingkat

Selain sepi saat Shalat Jum'at, khutbah juga dilangsungkan secara singkat. Tak ada uraian yang membuat semangat.

"Tak ada khutbah menggelegar sebagai mana dilakukan oleh Baginda Nabi. Khutbah sekadar pembukaan, pujian, shalawat, wasiat ketaqwaan dan satu Ayat Al Quran. Tak sampai 3 menit sudah khutbah kedua yg ditutup hanya dengan sebait doa ampunan." tegas Azzam bercerita.

6. Tidak Boleh Berinteraksi

Semakin miris ketika ustadz Azzam mengucapkan salam sembari tersenyum, tetapi tak ada balasan. Mereka hanya memberi kode dengan dua bola matanya.

"Saya rindu disalami lepas shalat. Tapi tak ada yang berani. Bahkan sekedar mengucapkan "Assalamu'alaikum" kepada sesama saudara saat berpapasan di dalam atau di luar dan di sekitar masjid tak ada jawaban salam. Saya ucapkan duluan sambil tersenyum, mereka hanya menatap iba sambil menggerakkan bola matanya yg tampak sedih berduka itu ke arah sudut atas kanan dan kiri. Ya, ada CCTV. Mereka tak berani." ungkapnya, sedih.

Jika di depan Ka'bah saya menangis saat shalat mendengarkan ayat yang dibaca oleh Sang Imam dengan begitu fashih, panjang dalam alunan suara yang menyentuh hati. Tidak di sini. Saya menangis karena kondisi ini. Dengan segala keterbatasan umat Islam untuk beribadah kepada Allah Rabbul Izzati.

Ya Rabb, lindungi dan selamatkan saudara 







Tidak ada komentar